Aku novita seorang pekerja swasta di suatu pt.
Jalan yang ku ambil gak semulus yang dikira aku mendapatkan pekerjaan dengan susah kesana kemari tapi tak kunjung ku dapatkan. Entah hanya mengumpulkan amplop coklat atau hanya interview terus gak ada lanjutan. Tanya-tanya?? Sudah banyak orang kutanyai sampai-sampai orang itu kasihan denganku,, aku gak mau di kasihani. Rasanya mata ini pedih saja kalau di kasihani orang banyak.
Akhirnya aku memutuskan pergi ke suatu kota,, satu bulan aku disana. Aku ikut kakakku dan iparku. Disana aku cari-cari info lowongan kerja dari media online. Ya memang hasilnya sama saja. Gak dapat kerja malah banyak yang iba padaku. mataku kembali pedih.
Aku memutuskan untuk pulang. Walaupun aku ngerti pulang malah bawa kesedihan untuk orang tuaku. Orang tuaku tak ada berhenti-hentinya mendo’akan ku tapi belum ada hasilnya. Tapi orang tuaku memahaminya mungkin belum rejekimu nak,, .
Justru waktu aku pulang ke desa itu banyak tetangga menanya i ku?? Di kota satu bulan dikira aku sudah kerja ternyata belum terus disana ngapain saja? . Rasanya lebih sakit mataku tidak hanya pedih air bening keluar di mataku. Aku gak bisa jawab apa-apa.
Keluargaku yang mendinginkanku. Hidup di banyak orang itu wajar kalau di serbu pertanyaan. Kalau ada yang tanya di jawab aja,, kalau belum rejeki di minta model apa allah gak memberi. Soalnya belum tiba giliranmu. Aku agak sedikit tenang tapi tetap saja rasa gak enak ada di hatiku.
Di saat aku hanya bekerja di rumah. Orang tua ku slalu bilang bersabar lah nanti kamu bakalan dapat yang terbaik. Selang beberapa bulan aku mendapat kan telp dari pakdhe,, pakdhe memberitahuku ada loker di kota ××× karna aku sudah bingung cari kerja gak dapat-dapat. Aku berangkat bismillah niat cari kerja. Padahal aku gak ngerti tempat dan kerjanya apa.
Ternyata kesabaran itu membuahkan hasil. Tanpa aku mencari sudah datang sendiri.
